Halaman

Kamis, 13 Desember 2012

PRINSIP BELAJAR DALAM ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari tiga hal, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keberhasilan pendidikan pada suatu negara tergantung pada tiga hal tersebut. Ketiganya harus seimbang dalam mengelolah dan mengembangkan pendidikan. Setiap faktor tersebut memiliki fungsi dan peranan yang penting untuk mencapai pendidikan.
Jika ditelusuri ayat-ayat Al-Quran, maka akan ditemukan ayat-ayat tentang keluarga yang banyak dibicarakan. Al-Quran menggunakan beberapa istilah tentang keluarga, antara lain ahl dan al ashirah (kerabat). Selain itu, Al-Quran juga menggunakan istilah ali seperti ala imran, ala ibrahim dan sebagainya.
Sedangkan kata ashirah berasal dari asharah yang berarti sepuluh, dumana kata tersebut merupakan bilangan sempurna. Maka, istilah ashirah dapat diartikan kepada keluarga besar.
1.2. Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah isi kandungan QS Tahaa 131-132
2.      Bagaimanakah pendidikan dalam keluarga menurut islam
3.      Apakah kewajiban orang tua terhadap putera-putrinya

1.3.  Tujuan Penelitian
Makalah ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa dalam memahami isi kandungan Q.S surat Tahaa 131-132 mengenai kewajiban orang tua.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Teks Surah Tahaa Ayat 131-132
http://www.alquran-indonesia.com/images/alquran/s020/a131.png
http://www.alquran-indonesia.com/images/alquran/s020/a132.png
2.2. Mufradat
تمدن              :           sekali kali engkau tujukan
ءينيك                        :           kedua matamu  (pandangan)
إلى مامتءنا    :           kepada apa yang kami anugerahkan
ازواجامنھم      :           beberapa golongan dari mereka
لنفتنھم                     :  agar kami uji mereka
خير              :            lebih baik
وابقى             :           dan lebih kekal
2.3.Terjemahan Surah Thahaa Ayat 131-132
Artinya :
131.  Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal
132.  Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.
2.4. Hubungan Surah Thahaa Ayat 131-132 Dengan Ayat Sebelumnya
Surah Thahaa ayat 130
http://www.alquran-indonesia.com/images/alquran/s020/a130.png
Artinya  : Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang,
Hubungan Surah Thahaa ayat 131-132 dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 130 :
Pada, ayat 130 menjelaskan tentang perintah Allah untuk mensucikan diri melalui shalat dan bertasbih memuji Allah guna menghadapi kesulitan dan gangguan para pendurhaka mengantar kepada keridhaan dan kepuasaan hati. Jika kita slalu bertasbih dan mendekatkan diri melalui shalat, maka akan tercipta rasa tenang pada diri kita.
Pada ayat 131-132 menjelaskan tentang perintah Allah untuk tidak mengarahkan pandangan kepada kenikmatan duniawi yang dimilki oleh para pendurhaka, karena sesungguhnya itu semua hanyalah hiasan dunia yang bersifat sementara yang akan segera akan layu dan punah. Allah memberikan itu untuk menguji mereka dengan kenikmatan yang mereka miliki, apakah mereka mensyukuri Allah atau tidak. Selanjutnya ayat ini menjelaskan bahwa Allah menyuruh kita untuk melaksanakan shalat dan juga kita diminta untuk mengajak keluarga untuk shalat secara baik dan berkesinambungan pada setiap waktunya, agar tercipta hubungan harmonis antara masing-masing keluarga serta hubungan harmonis dengan Allah swt. Dan kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat adalah orang-orang yang bertkwa kepada Allah swt.
Jadi, ketiga ayat tersebut memilki keterkaitan. Dimana Allah memerintahkan kepada kita untuk melaksanakan shalat dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya.
2.5. Asbabun Nuzul
Setelah kami cari dari beberapa sumber, surat tahaa ayat 131-132 tidak diketahui asbabun nuzulnya.
2.6. Tafsir Ayat
Kata تمدن  tamudduna berasal dari kata (مد ) madda yang secara harfiah berarti memanjangkan. Memanjangkan mata terhadap sesuatu, pertanda perhatian yang besar serta rasa kagum dan cinta kepadanya. Dari sini larangan diatas dipahami sebagai larangan untuk menaruh perhatian yang luar biasa dan keinginan yang mendalam serta rasa kagum terhadap hiasan dirinya yang dimiliki para pendurhaka.
Kata (أزواج) azwaj adalah bentuk jamak dari kata (زوج) zawj. Ada yang memahaminya dalam arti keragaman golongan orang-orang kafir atau pasangan-pasangan pria atau wanita yang mereka miliki baik dalam arti perorangan karena kecantikan dan ketampanannya maupun dalam arti rumah tangga mereka.
Kata (ربك) rabbika/tuhanmu. Pada firmannya : rizqu rabbika/karunia tuhanmu untuk mengisyaratkan bahwa apa yang dianugerahkannya itu benar-benar baik dan berdampak baik bagi yang menerimanya. Sebenarnya apapun yang diperoleh oleh seseorang merupakan karunia yang bersumber dari Allah, tetapi yang diperoleh dengan cara haram, pasti akan berdampak buruk bagi yang bersangkutan di dunia dan akhirat.
Kata (أھلك) ahlaka/keluarga jika ditinjau dari waktu turunnya ayat, maka ia hanya terbatas pada isteri Nabi (Khadijah ra). Dan beberapa putera Nabi bersama Ali bin Abi Thalib ra, yang beliau pelihara setelah Abi thalib meninggal. Tetapi bila dilihat dari penggunaan kata ahlaka yang dapat mencakup keluarga besar, lalu menyadari bahwa perintah tersebut berlanjut sepanjang hayat, maka ia dapat mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW, termasuk semua isteri dan anak-cucu beliau. Bahkan ulama memperluasnya sehingga mencakup seluruh umat beliau.
Kata (اصطبر) ishthabir dari kata (اصبر) isbir/bersabarlah dengan penambahan huruf (ط). Penambahan itu mengandung makna penekanan. Nabi SAW diperintahkan untuk lebih bersabar dalam melaksanakan shalat, karena shalat yang wajib bagi beliau hanya shalat lima waktu, tetapi juga shalat malam yang diperintahkan kepada beliau untuk melaksanakannya selama sekitar setengah malam setiap hari.
Kata (رزق) rizq, pada mulanya, sebagaimana ditulis pakar bahasa arab, Ibn Faris, berarti pemberian untuk waktu tertentu. Namun demikian, arti asal ini berkembang sehingga rezeki antara lain diartikan sebagai pangan, pemenuhan kebutuhan, gaji, hujan dan lain-lain.[1]
2.7.  Hubungan Surah Thahaa Ayat 131-132 Dengan Surah al-Tahrim Ayat 5-6 Dan   Surah ali Imran Ayat 33-37.
Surah al-Tahrim ayat 5-6 :
http://www.alquran-indonesia.com/images/alquran/s066/a005.png
http://www.alquran-indonesia.com/images/alquran/s066/a006.png
Artinya :
5. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang ta'at, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.
6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Hubungan surah Thahaa ayat131-132 dengan surah al-Tahrim ayat 5-6 yaitu :
Pada surah Thahaa ayat 131-132, berisi larangan menoleh kapada berbagai kenikmatan dunia yang telah di berikan kepada orang-orang kafir. Semua kenikmatan itu diberikan kepada orang-orang kafir semata-mata sebagai "bunga kehidupan"untuk menguji mereka. Karena kenikmatan dunia yang di rasakan oleh orang-orang kafir justru akan menjadi siksaan bagi mereka, kelak di ahirat. Siksaan ini di berikan karena mereka lalai mensyukuri nikmat tersebut dengan jalan beriman kepada ayat-ayat Allah swt. Dan juga dalam ayat ini menjelaskan tentang perintah kepada Nabi Muhammad untuk memerintahkan kepada keluarganya dan umat muslim untuk melaksanakan shalat.
Pada surah al-Tahrim ayat 5-6, masih menjelaskan perintah Allah swt tentang larangan untuk mendurhakai Allah swt dan melaksanakan semua perintah Allah swt. Dalam ayat ini juga diterangkan bahwa tiap-tiap orang islam wajib menjaga dirinya dari api neraka begitu juga dengan keluarganya. Oleh sebab itu, wajib tiap-tiap orangtua mendidik anaknya supaya beriman,beramal saleh dan berakhlak mulia. Jika tidak sanggup mendidiknya dengan didikan dan ajaran islam maka wajib menyerahkannya kepada guru, sedangkan pendidikan rumah tangga tetap terpikul dipundak orang tua meskipun anaknya telah diserahkan kepada pihak sekolah.
Jika orang tua tidak melaksanakan pendidikan anaknya, maka orangtuanya turut bertanggung jawab dihadapan Allah atas kesalahan anaknya bila anaknya berbuat dosa. Namun jika orangtua telah melaksanakan pendidikan anaknya kemudian anaknya berbuat dosa, maka orangtuanya telah lepas dari tanggung jawab dosa anaknya. Begitu juga sebaliknya bila anak yang di didik menjadi anak yang saleh, maka orang tuanya mendapat pahala dari amalan anaknya meskipun ia telah meninggal.
Jadi, hubungan antara surah Thahaa ayat 131-132 dengan surah al-Tahrim ayat 5-6 yaitu tentang perintah untuk melaksanakan shalat dan kewajiban umat muslim untuk mengingatkan keluarganya agar slalu patuh dan ta’at kepada perintah Allah swt.
Surah ali Imran ayat 33-37 :
http://www.alquran-indonesia.com/images/alquran/s003/a034.pnghttp://www.alquran-indonesia.com/images/alquran/s003/a033.png         
http://www.alquran-indonesia.com/images/alquran/s003/a035.pnghttp://www.alquran-indonesia.com/images/alquran/s003/a036.png
http://www.alquran-indonesia.com/images/alquran/s003/a037.png
Artinya :
33. Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),
34. (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
35. (Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
36. Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari pada syaitan yang terkutuk."
37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.
            Pada surah ali Imran ayat 33-37 menjelaskan tentang para tokoh Ibrahim dan Imran. Mereka merupakan seorang pendidik yang patut di teladani oleh semua orang tua. Usaha mereka perlu dicontoh dan dipedomani oleh orang tua. Upaya yang mereka lakukan dalam mendidik anaknya antara lain : doa atau permohonan secara terus menerus kepda Allah agar anaknya menjadi anak yang saleh.
  Jadi, hubungan antara surah Thahaa ayat 131-132 dengan suarah ali Imran ayat 33-37 yaitu  tentang kewajiban suatu keluarga agar selalu mendidik anggota keluarganya ke jalan yang benar. Oleh karena itu para orang tua berkewajiban mengajarkan kebaikan dan ajaran agama pada anak-anak serta memberikan contoh tauladan.

2.8. Hubungan Ayat Dengan Pendidikan
Surah Thahaa ayat 131-132 hubugannya dengan pendidikan adalah bahwasanya dalam mendidik anggota keluarga, orang tua dituntut kesabaran dan keuletannya dalam mendidik anak-anak. Dalam dunia pendidikan para pendidik(guru) sudah barang tentu termasuk orang-orang yang paling pertama terkena perintah dan pengarahan di atas. Karna pendidikan adalah panutan yang akan senantiasa diikuti dan ditiru. Ia juga adalah penanggung jawab pertama dalam pendidikan anak berdasarkan iman dan ajaran islam.
Jika pendidik tidak menghiasi dirinya dengan taqwa, prilaku dan pergaulan yang berjalan di atas metode islam, maka anak akan tumbuh menyimpang, terombang ambing dalam kerusakan, kesesatan dan kebodohan.
Karenanya para pendidik hendaknya menghiasi dirinya dengan kesabaran, kelemah lembutan dan ketabahan. Tapi Ini semua tidak berarti bahwa pendidik selamanya harus berlemah lembut dan sabar dalam mendidik anak. Tetapi dimaksud agar pendidik menahan dirinya ketika hendak makan, tidak emosi ketika meluruskan dari hal yang melenceng  anaknya dan memperbaiki akhlaqnya. Jika memang dia melihat kemaslahatan dalam member hukuman kepada anak dengan kecaman misalnya, hendaklah ia jangan ragu-ragu mengeluarkan hukuman itu. sehingga anak menjadi baik kembali menjadi lurus akhlaqnya. Jika ia dapat bertindak dengan bijaksana, maka ia akan mendapatkan keuntungan yang besar.[2]
2.9. Proses pendidikan keluarga
Jika kita membaca dan memahami makna atau kandungan dari surat Ali Imran ayat 33-37 menceritakan proses pendidikan dalam keluarga, maka dapat disimpulkan bahwa proses pendidikan keluarga itu dimulai dari :
a.    ketika anak berada dalam rahim ibu.
Ketika anak berada dalam kandungan, ibu mendo’akan dan mengucapkan kata-kata yang baik. Hal ini dapat diartikan sebagai usaha mendidik atau mengajar anak ketika dalam kandungan
b.   Setelah anak lahir
Setelah anak lahir, orang tua tentunya akan mendidik anaknya dengan sebaik mungkin. Seperti saat anak masih bayi atau masa balita, anak sudah diajarkan orangtua dalam mengucapkan atau berbicara yang baik.
c.       Setelah dan Ketika anak tumbuh dewasa
Pada tahap ini, perkembangan anak masih mudah untuk dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Meskipun anak telah diantarkan ke sekolah, peran orang tua tetap harus berjalan. Oleh karena itu, pada masa ini orangtua dituntut aktif dalam mendidik anaknya dengan ajaran yang baik dan sesuai dengan nilai agama.









BAB III
PENUTUP

3.1.  Kesimpulan
Dalam Q.S Thahaa ayat131-132, menegaskan bahwa setiap orang tua terutama ayah sebagai kepala keluarga wajib memerintahkan setiap anggota keluarganya untuk mendirikan shalat. Selain itu, ayat tersebut juga mengingatkan bahwa Allah tidak butuh shalat manusia, tetapi manusialah yang mempunyai banyak harapan kepadanya. Maka, mendirikan shalat dan menyuruh keluarga mendirikannya merupakan jalan yang dapat mengantarkan manusia untuk mencapai harapannya itu.
Beberapa ayat diatas menggambarkan kewajiban suatu keluarga mendidik dan membimbing anggota keluarganya. Dari sini, dapat diartikan, bahwa kesepakatan antara seorang laki-laki dan wanita untuk menikah harus dimaknai sebagai kesepakatan mereka mendirikan lembaga pendidikan keluarga, dimana suami dan isteri (ayah dan ibu) sebagai murabbi atau muaddib (pendidik) dan anggota keluarga lainnya, khususnya anak-anak sebagai peserta didik. Untuk itu, menjadi seorang ayah/ibu harus memenuhi persyaratan seorang pendidik, khususnya penguasaan ilmu keislaman dan keteladanan.

3.2.  Saran
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pembahasan surat Thahaa ayat 131-132 terutama pada bagian asbabun nuzulnya. Kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah kami ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar