BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari tiga hal, yaitu
keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keberhasilan pendidikan pada suatu negara
tergantung pada tiga hal tersebut. Ketiganya harus seimbang dalam mengelolah
dan mengembangkan pendidikan. Setiap faktor tersebut memiliki fungsi dan
peranan yang penting untuk mencapai pendidikan.
Jika ditelusuri ayat-ayat Al-Quran, maka akan ditemukan
ayat-ayat tentang keluarga yang banyak dibicarakan. Al-Quran menggunakan
beberapa istilah tentang keluarga, antara lain ahl dan al ashirah
(kerabat). Selain itu, Al-Quran juga menggunakan istilah ali seperti ala
imran, ala ibrahim dan sebagainya.
Sedangkan kata ashirah berasal dari asharah yang
berarti sepuluh, dumana kata tersebut merupakan bilangan sempurna. Maka,
istilah ashirah dapat diartikan kepada keluarga besar.
1.2.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah isi kandungan QS Tahaa 131-132
2.
Bagaimanakah pendidikan dalam keluarga menurut islam
3.
Apakah kewajiban orang tua terhadap putera-putrinya
1.3. Tujuan Penelitian
Makalah ini bertujuan untuk
membantu para mahasiswa dalam memahami isi kandungan Q.S surat Tahaa 131-132
mengenai kewajiban orang tua.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Teks Surah Tahaa
Ayat 131-132


2.2. Mufradat
تمدن : sekali
kali engkau tujukan
ءينيك : kedua
matamu (pandangan)
إلى مامتءنا :
kepada apa yang kami anugerahkan
ازواجامنھم :
beberapa golongan dari mereka
لنفتنھم : agar kami uji mereka
خير : lebih baik
وابقى : dan
lebih kekal
2.3.Terjemahan Surah Thahaa Ayat 131-132
Artinya :
131. Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu
kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka,
sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia
Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal
132.
Dan perintahkanlah kepada keluargamu
mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta
rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu
adalah bagi orang yang bertakwa.
2.4. Hubungan Surah Thahaa Ayat 131-132
Dengan Ayat Sebelumnya
Surah Thahaa ayat 130

Artinya : Maka sabarlah kamu atas apa
yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit
matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di
malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang,
Hubungan Surah Thahaa ayat 131-132
dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 130 :
Pada,
ayat 130 menjelaskan tentang perintah Allah untuk mensucikan diri melalui
shalat dan bertasbih memuji Allah guna menghadapi kesulitan dan gangguan para
pendurhaka mengantar kepada keridhaan dan kepuasaan hati. Jika kita slalu
bertasbih dan mendekatkan diri melalui shalat, maka akan tercipta rasa tenang
pada diri kita.
Pada
ayat 131-132 menjelaskan tentang perintah Allah untuk tidak mengarahkan
pandangan kepada kenikmatan duniawi yang dimilki oleh para pendurhaka, karena
sesungguhnya itu semua hanyalah hiasan dunia yang bersifat sementara yang akan
segera akan layu dan punah. Allah memberikan itu untuk menguji mereka dengan
kenikmatan yang mereka miliki, apakah mereka mensyukuri Allah atau tidak.
Selanjutnya ayat ini menjelaskan bahwa Allah menyuruh kita untuk melaksanakan
shalat dan juga kita diminta untuk mengajak keluarga untuk shalat secara baik
dan berkesinambungan pada setiap waktunya, agar tercipta hubungan harmonis
antara masing-masing keluarga serta hubungan harmonis dengan Allah swt. Dan
kesudahan yang baik di dunia dan di akhirat adalah orang-orang yang bertkwa
kepada Allah swt.
Jadi,
ketiga ayat tersebut memilki keterkaitan. Dimana Allah memerintahkan kepada
kita untuk melaksanakan shalat dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya.
2.5. Asbabun Nuzul
Setelah kami cari dari beberapa sumber,
surat tahaa ayat 131-132 tidak diketahui asbabun nuzulnya.
2.6. Tafsir Ayat
Kata تمدن tamudduna berasal dari kata (مد ) madda yang secara harfiah berarti memanjangkan. Memanjangkan mata terhadap
sesuatu, pertanda perhatian yang besar serta rasa kagum dan cinta kepadanya.
Dari sini larangan diatas dipahami sebagai larangan untuk menaruh perhatian
yang luar biasa dan keinginan yang mendalam serta rasa kagum terhadap hiasan
dirinya yang dimiliki para pendurhaka.
Kata (أزواج) azwaj
adalah bentuk jamak dari kata (زوج) zawj.
Ada yang memahaminya dalam arti keragaman golongan orang-orang kafir atau
pasangan-pasangan pria atau wanita yang mereka miliki baik dalam arti
perorangan karena kecantikan dan ketampanannya maupun dalam arti rumah tangga
mereka.
Kata (ربك) rabbika/tuhanmu.
Pada firmannya : rizqu rabbika/karunia
tuhanmu untuk mengisyaratkan bahwa apa yang dianugerahkannya itu
benar-benar baik dan berdampak baik bagi yang menerimanya. Sebenarnya apapun
yang diperoleh oleh seseorang merupakan karunia yang bersumber dari Allah,
tetapi yang diperoleh dengan cara haram, pasti akan berdampak buruk bagi yang
bersangkutan di dunia dan akhirat.
Kata (أھلك) ahlaka/keluarga
jika ditinjau dari waktu turunnya ayat, maka ia hanya terbatas pada isteri Nabi
(Khadijah ra). Dan beberapa putera Nabi bersama Ali bin Abi Thalib ra, yang
beliau pelihara setelah Abi thalib meninggal. Tetapi bila dilihat dari
penggunaan kata ahlaka yang dapat mencakup keluarga besar, lalu menyadari bahwa
perintah tersebut berlanjut sepanjang hayat, maka ia dapat mencakup keluarga
besar Nabi Muhammad SAW, termasuk semua isteri dan anak-cucu beliau. Bahkan
ulama memperluasnya sehingga mencakup seluruh umat beliau.
Kata (اصطبر) ishthabir
dari kata (اصبر) isbir/bersabarlah dengan
penambahan huruf (ط). Penambahan itu mengandung makna penekanan. Nabi SAW
diperintahkan untuk lebih bersabar dalam melaksanakan shalat, karena shalat
yang wajib bagi beliau hanya shalat lima waktu, tetapi juga shalat malam yang
diperintahkan kepada beliau untuk melaksanakannya selama sekitar setengah malam
setiap hari.
Kata (رزق) rizq,
pada mulanya, sebagaimana ditulis pakar bahasa arab, Ibn Faris, berarti
pemberian untuk waktu tertentu. Namun demikian, arti asal ini berkembang
sehingga rezeki antara lain diartikan sebagai pangan, pemenuhan kebutuhan,
gaji, hujan dan lain-lain.[1]
2.7. Hubungan Surah Thahaa
Ayat 131-132 Dengan Surah al-Tahrim Ayat 5-6 Dan Surah ali Imran Ayat 33-37.
Surah
al-Tahrim ayat 5-6 :


Artinya
:
5. Jika
Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan
isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang ta'at,
yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang
perawan.
6. Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Hubungan
surah Thahaa ayat131-132 dengan surah al-Tahrim ayat 5-6 yaitu :
Pada surah Thahaa ayat 131-132, berisi larangan menoleh
kapada berbagai kenikmatan dunia yang telah di berikan kepada orang-orang
kafir. Semua kenikmatan itu diberikan kepada orang-orang kafir semata-mata
sebagai "bunga kehidupan"untuk menguji mereka. Karena kenikmatan
dunia yang di rasakan oleh orang-orang kafir justru akan menjadi siksaan bagi
mereka, kelak di ahirat. Siksaan ini di berikan karena mereka lalai mensyukuri
nikmat tersebut dengan jalan beriman kepada ayat-ayat Allah swt. Dan juga dalam ayat ini
menjelaskan tentang perintah kepada Nabi Muhammad untuk memerintahkan kepada
keluarganya dan umat muslim untuk melaksanakan shalat.
Pada
surah al-Tahrim ayat 5-6, masih menjelaskan perintah Allah swt tentang larangan
untuk mendurhakai Allah swt dan melaksanakan semua perintah Allah swt. Dalam
ayat ini juga diterangkan bahwa tiap-tiap orang islam wajib menjaga dirinya
dari api neraka begitu juga dengan keluarganya. Oleh sebab itu, wajib tiap-tiap
orangtua mendidik anaknya supaya beriman,beramal saleh dan berakhlak mulia.
Jika tidak sanggup mendidiknya dengan didikan dan ajaran islam maka wajib
menyerahkannya kepada guru, sedangkan pendidikan rumah tangga tetap terpikul
dipundak orang tua meskipun anaknya telah diserahkan kepada pihak sekolah.
Jika
orang tua tidak melaksanakan pendidikan anaknya, maka orangtuanya turut
bertanggung jawab dihadapan Allah atas kesalahan anaknya bila anaknya berbuat
dosa. Namun jika orangtua telah melaksanakan pendidikan anaknya kemudian
anaknya berbuat dosa, maka orangtuanya telah lepas dari tanggung jawab dosa
anaknya. Begitu juga sebaliknya bila anak yang di didik menjadi anak yang
saleh, maka orang tuanya mendapat pahala dari amalan anaknya meskipun ia telah
meninggal.
Jadi,
hubungan antara surah Thahaa ayat 131-132 dengan surah al-Tahrim ayat 5-6 yaitu
tentang perintah untuk melaksanakan shalat dan kewajiban umat muslim untuk
mengingatkan keluarganya agar slalu patuh dan ta’at kepada perintah Allah swt.
Surah
ali Imran ayat 33-37 :



Artinya :
33. Sesungguhnya Allah telah memilih
Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa
mereka masing-masing),
34. (sebagai) satu keturunan yang
sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.
35. (Ingatlah), ketika isteri 'Imran
berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang
dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis).
Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui".
36. Maka tatkala isteri 'Imran
melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku
melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang
dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.
Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya
serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari pada syaitan
yang terkutuk."
37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai
nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik
dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk
menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata:
"Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam
menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi
rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.
Pada surah
ali Imran ayat 33-37 menjelaskan tentang para tokoh Ibrahim dan Imran. Mereka
merupakan seorang pendidik yang patut di teladani oleh semua orang tua. Usaha
mereka perlu dicontoh dan dipedomani oleh orang tua. Upaya yang mereka lakukan
dalam mendidik anaknya antara lain : doa atau permohonan secara terus menerus
kepda Allah agar anaknya menjadi anak yang saleh.
Jadi, hubungan
antara surah Thahaa ayat 131-132 dengan suarah ali Imran ayat 33-37 yaitu tentang kewajiban suatu keluarga agar selalu
mendidik anggota keluarganya ke jalan yang benar. Oleh karena itu para orang
tua berkewajiban mengajarkan kebaikan dan ajaran agama pada anak-anak serta
memberikan contoh tauladan.
2.8. Hubungan
Ayat Dengan Pendidikan
Surah Thahaa ayat 131-132 hubugannya dengan pendidikan
adalah bahwasanya dalam mendidik anggota keluarga, orang tua dituntut kesabaran
dan keuletannya dalam mendidik anak-anak. Dalam dunia pendidikan para pendidik(guru) sudah barang
tentu termasuk orang-orang yang paling pertama terkena perintah dan pengarahan
di atas. Karna pendidikan adalah panutan yang akan senantiasa diikuti dan
ditiru. Ia juga adalah penanggung jawab pertama dalam pendidikan anak
berdasarkan iman dan ajaran islam.
Jika pendidik tidak menghiasi dirinya dengan taqwa, prilaku
dan pergaulan yang berjalan di atas metode islam, maka anak akan tumbuh
menyimpang, terombang ambing dalam kerusakan, kesesatan dan kebodohan.
Karenanya para pendidik hendaknya menghiasi dirinya dengan
kesabaran, kelemah lembutan dan ketabahan. Tapi Ini semua tidak berarti bahwa
pendidik selamanya harus berlemah lembut dan sabar dalam mendidik anak. Tetapi dimaksud
agar pendidik menahan dirinya ketika hendak makan, tidak emosi ketika
meluruskan dari hal yang melenceng
anaknya dan memperbaiki akhlaqnya. Jika memang dia melihat kemaslahatan
dalam member hukuman kepada anak dengan kecaman misalnya, hendaklah ia jangan
ragu-ragu mengeluarkan hukuman itu. sehingga anak menjadi baik kembali menjadi
lurus akhlaqnya. Jika ia dapat bertindak dengan bijaksana, maka ia akan
mendapatkan keuntungan yang besar.[2]
2.9. Proses pendidikan keluarga
Jika
kita membaca dan memahami makna atau kandungan dari surat Ali Imran ayat 33-37
menceritakan proses pendidikan dalam keluarga, maka dapat disimpulkan bahwa
proses pendidikan keluarga itu dimulai dari :
a. ketika anak berada dalam rahim ibu.
Ketika
anak berada dalam kandungan, ibu mendo’akan dan mengucapkan kata-kata yang
baik. Hal ini dapat diartikan sebagai usaha mendidik atau mengajar anak ketika
dalam kandungan
b. Setelah anak lahir
Setelah
anak lahir, orang tua tentunya akan mendidik anaknya dengan sebaik mungkin. Seperti
saat anak masih bayi atau masa balita, anak sudah diajarkan orangtua dalam
mengucapkan atau berbicara yang baik.
c.
Setelah
dan Ketika anak tumbuh dewasa
Pada
tahap ini, perkembangan anak masih mudah untuk dipengaruhi oleh lingkungan
sekitarnya. Meskipun anak telah diantarkan ke sekolah, peran orang tua tetap
harus berjalan. Oleh karena itu, pada masa ini orangtua dituntut aktif dalam
mendidik anaknya dengan ajaran yang baik dan sesuai dengan nilai agama.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dalam Q.S Thahaa ayat131-132, menegaskan bahwa setiap orang tua
terutama ayah sebagai kepala keluarga wajib memerintahkan setiap anggota
keluarganya untuk mendirikan shalat. Selain itu, ayat tersebut juga
mengingatkan bahwa Allah tidak butuh shalat manusia, tetapi manusialah yang
mempunyai banyak harapan kepadanya. Maka, mendirikan shalat dan menyuruh
keluarga mendirikannya merupakan jalan yang dapat mengantarkan manusia untuk
mencapai harapannya itu.
Beberapa ayat diatas menggambarkan kewajiban suatu
keluarga mendidik dan membimbing anggota keluarganya. Dari sini, dapat
diartikan, bahwa kesepakatan antara seorang laki-laki dan wanita untuk menikah
harus dimaknai sebagai kesepakatan mereka mendirikan lembaga pendidikan
keluarga, dimana suami dan isteri (ayah dan ibu) sebagai murabbi atau muaddib
(pendidik) dan anggota keluarga lainnya, khususnya anak-anak sebagai peserta
didik. Untuk itu, menjadi seorang ayah/ibu harus memenuhi persyaratan seorang
pendidik, khususnya penguasaan ilmu keislaman dan keteladanan.
3.2. Saran
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pembahasan
surat Thahaa ayat 131-132 terutama pada bagian asbabun nuzulnya.
Kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah kami ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar