A.
KONSEP
DASAR PEMBELAJARAN TERPADU
Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam
pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra
mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Pembelajaran terpadu sangat
memperhatikan kebutuhan anak sesuai dengan perkembangannya yang holistik dengan
melibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran baik fisik maupun
emosionalnya. Untuk itu aktivitas yang diberikan meliputi aktif mencari, menggali,
dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan yang holistik, bermakna, dan
otentik sehingga siswa dapat menerapkan perolehan belajar untuk memecahkan
masalah-masalah yang nyata di dalam kehidupan sehari-hari
Selain itu, Pembelajaran terpadu merupakan suatu aplikasi
salah satu startegi pembelajaran berdasarkan pendekatan kurikulum terpadu yang
bertujuan untuk menciptakan atau membuat proses pembelajaran secara relevan dan
bermakna bagi anak. Pembelajaran terpadu didasarkan pada pendekatan inkuiri,
yaitu melibatkan siswa mulai dari merencanakan, mengeksplorasi, dan brain
storming dari siswa. Dengan pendekatan terpadu siswa didorong untuk berani
bekerja secara kelompok dan belajar dari hasil pengalamannya sendiri.
Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pelaksanaannya anak dapat diajak
berpartisipasi aktif dalam mengeksplorasi topik atau kejadian, siswa belajar
proses dan isi (materi) lebih dari satu bidang studi pada waktu yang sama.
Secara singkat dapat dismpulkan bahwa pada hakikatnya
pembelajaran terpadu adalah upaya memadukan berbagai materi belajar yang
berkaitan, baik dalam satu displin ilmu maupun antar disiplin ilmu dengan
kehidupan dan kebutuhan nyata para siswa, sehingga proses belajar anak menjadi
sesuatu yang bermakna dan menyenangkan anak.
Pembelajaran
terpadu memiliki kelebihan (Depdikbud, 1996) sebagai berikut :
1. Pengalaman dan kegiatan belajar anak
relevan dengan tingkat perkembangannya.
2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan
minat dan kebutuhan anak.
3. Kegiatan belajar bermakna bagi anak,
sehingga hasilnya dapat bertahan lama.
4. Keterampilan berpikir anak
berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.
5. Kegiatan belajar mengajar bersifat
pragmatis sesuai dengan lingkungan anak.
6. Keterampilan sosial anak berkembang
dalam proses pembelajaran terpadu
Selain
itu, Pembelajaran terpadu memiliki beberapa macam karakteristik, diantaranya:
1. Berpusat pada anak (student centered) dan memberi pengalaman
langsung pada anak.
2. Pemisahan antara bidang studi tidak
begitu jelas.
3. Menyajikan konsep dari berbagai
bidang studi dalam suatu proses pembelajaran.
4. Hasil pembelajaran dapat berkembang
sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
5. Holistik, artinya suatu peristiwa
yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu di amati dan di kaji
dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang
terkotak-kotak.
6. Bermakna, artinya pengkajian suatu
penomena dari berbagai macam aspek memungkinkan terbentuknya semacam jalinan
skemata yang dimiliki siswa.
7. Otentik, artinya informasi dan
pengetahuan yang diperoleh sipatnya menjadi otentik.
8. Aktif, artinya siswa perlu terlibat
langsung dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga
proses evaluasi.
Berikut ini dikemukakan pula prinsip-prinsip dalam pembelajaran
terpadu yaitu meliputi :
1. Prinsip penggalian tema
2. Prinsip pelaksanaan pembelajaran
terpadu
3. Prinsip evaluasi
4. Prinsip reaksi.
B.
HAKIKAT
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi.
Oleh karena itu pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan
siswa dalam berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tertulis
(Depdikbud, 1995:9).
Kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan
tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Untuk mencapai tujuan itu
diperlukan pendekatan dalam pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan
perkembangan anak. Untuk itu, dalam kurikulum pendidikan dasar, pembelajaran
bahasa dianjurkan agar dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa yang mencakup
aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan sastra Indonesia dapat
dipadukan atau dikaitkan dengan mata pelajaran lain seperti IPA, IPS, dan Matematika.
Pendekatan terpadu dalam pembelajaran bahasa dilandasi
pandangan bahasa holistik (whole language) yang memperlakukan bahasa sebagai sesuatu
yang bulat dan utuh. Pada hakikatnya whole language merupakan falsafah
pandangan atau keyakinan tentang hakikat belajar dan bagaimana anak belajar secara
optimal. Sistem landasan keterpaduan dalam pembelajaran bahasa menyatakan bahwa
belajar bahasa akan lebih mudah terjadi jika bahasa itu disajikan secara
holistik nyata, relevan, bermakna, serta fungsional, jika bahasa itu disajikan
dalam konteks pembicaraan dan dipilih siswa untuk digunakan.
Belajar bahasa
adalah belajar bagaimana menungkapkan maksud sesuai dengan konteks lingkungan
orang tua, kerabat, dan kebudayaan. Terdapat interdependensi antara
perkembangan kognitif dan perkembangan kemampuan bahasa, pikiran bergantung
kepada bahasa dan bahasa bergantung pada pikiran. Pandangan ini tidak meremehkan
satu ragam bahasa, dialek, ataupun bahasa karena status sosial penuturnya.
Pemakaiannya berkaitan erat dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Bahasa hanya merupakan bahasa jika merupakan keseluruhan. Selain itu, pembelajaran
bahasa secara terpadu menaruh penghargaan terhadap bahasa dan dengan seksama
meningkatkan penguasaan bahasa siswa.
Pandangan Whole Language tentang kurikulum
menjelaskan bahwa karena bahasa paling mudah dipelajari jika disajikan secara
utuh dan dalam konteks yang alamiah, maka keterpaduan merupakan prinsip kunci
untuk perkembangan bahasa dan belajar melalui bahasa.
Dalam praktiknya
perkembangan bahasa dan bidang studi merupakan dua pihak yang terpisah. Dalam
hal ini Goodman dalam Akhadiah melihat bahwa guru harus melakukan tugas ganda.
Mereka harus mengoptimalkan kesempatan siswa untuk menggunakan bentuk bahasa
yang wajar pada waktu belajar IPA, IPS, Matematika, dan Sastra. Guru sekaligus
menilai perkembangan bahasa dan perkembangan kognitrif. Kegiatan berbicara, mendengarkan,
menulis, membaca, dan berbicara dalam konteks penjelajahan benda, peristiwa,
gagasan, da pengalaman.
Untuk menerapkan
pembelajaran terpadu, guru-guru yang berpandangan whole language kerap kali menciptakan unit tematik yang mungkin
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan anak dan masyarakat. Keterpaduan bahasa
adalah suatu pendekatan belajar dan cara berpikir yang menghargai keterhubungan
dari proses bahasa itu seperti membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan
sebagai keterpaduan pembelajaran yang berarti dalam segala bidang studi.
Keterpaduan
merupakan pendekatan dalam belajar dan cara berpikir yang memandang proses
berbahasa sebagai bagian integral dalam belajar di bidang apapun. Ini berarti
bahwa khususnya di SD bahasa tidak dipelajari sebagai mata pelajaran seperti
sains, misalnya, melainkan terpadu dalam penggunaannya untuk mempelajari
apapun. Aspek-aspek keterampilan berbahasa dikembangkan secara langsung melalui
kegiatan belajar dalam semua bidang. Agar dapat terjadi keterpaduan dalam pembelajaran
dapat menggunakan unit tematik. Hal ini menjadi sarana keterpaduan di samping
memberikan makna bagi anak.
Keterpaduan
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu keterpaduan sebagai keterpaduan intra bidang
studi dan keterpaduan antar bidang studi. Dalam keterpaduan intra bidang studi,
misalnya dalam pembelajaran bahasa Indonesia, setelah tema ditentukan, kemudian
dikembangkan aspek keterampilan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak.
Sedangkan keterpaduan antar bidang studi, anak-anak belajar menggunakan
aspek-aspek keterampilan bahasa melalui kegiatan belajar dalam berbagai bidang
studi. Mereka belajar menggunakan bahasa untuk berbagai keperluan, seperti
untuk mencari atau memberikan informasi, mengungkapkan perasaan atau tanggapan,
mengaanalisis, serta memecahkan permasalahan.
Pendekatan
terpadu dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah model pembelajaran kegiatan
berbahasa berdasarkan fungsi utama bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.
Para siswa dituntut untuk terampil berbahasa, yaitu terampil menyimak, membaca,
berbicara, dan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut harus dilakukan
secara terpadu dalam satu proses pembelajaran dengan fokus satu keterampilan.
Misalnya, para siswa sedang belajar keterampilan berbicara maka ketiga keterampilan
yang lainnya harus dilatihkan juga, tetapi kegiatan tersebut tetap difokuskan
untuk mencapai peningkatan kualitas berbicara.
Weaver (1990) menyatakan prinsip dan praktik whole language
beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Whole
language adalah
suatu pandangan yang berakar pada kenvergensi antara berbagai disiplin yang
mencakup psikologi kognitif dan teori belajar, psikolinguistik dan
sosiolinguistik, antropologi dan filsafat, serta pendidikan. Whole language merupakan pandangan
tentang anak dan cara mereka belajar
2. Pandangan whole language didasarkan atas observasi bahwa anak-anak berkembang
dan belajar dengan lebih mudah bila mereka aktif mengikuti purse proses belajar
sendiri. Mereka akan lebih mudah menguasai berbagai konsep dan strategi serta
konsep yang kompleks dalam menulis dan membaca, misalnya, bila mereka terlibat
secara nyata dalam kegiatan membaca dan menulis teks yang sebenarnya betapapun
singkatnya
3. Untuk memacu membaca dan menulis
permulaan emergent reading and writing,
whole language mencoba mencontoh strategi para orang tua yang dengan
berhasil mendorong pemerolehan bahasa dan kemampuan baca tulissecara alamiah
4. Berdasarkan pengetahuan bahwa
kemampuan baca tulis paling baik dikembangkan melalui penggunaan secara
fungsional, maka pengalaman membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan
diarahkan pada kegiatan bahasa nyata
5. Belajar dipacu melalui interaksi sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar