1.
Teori Belajar Bruner
Bruner adalah seorang ahli psikologi dari
Universitas Harvard, Amerika Serikat, yang telah mempelopori aliran psikologi kognitif yang memberi dorongan agar pendidikan memberikan perhatian pada pentingnya pengembangan berpikir. Ada tiga
proses kognitif yang terjadi dalam belajar, yaitu :
a.
proses perolehan
informasi baru
b.
proses mentransformasikan informasi
yang diterima
c.
menguji relevansi dan ketepatan
pengetahuan.
Menurut Bruner belajar matematika
adalah belajar mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang
terdapat didalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan antara
konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu, (Hudoyo, 1990:48). Dalam
setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan
masalah yang sesuai dengan situasi.
Bruner mengungkapkan bahwa dalam
proses belajar anak sebaiknya
diberi kesempatan memanipulasi benda-benda
atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan dapat diotak atik oleh siswa
dalam memahami suatu konsep matematika.Melalui alat peraga yang ditelitinya
anak akan melihat langsung bagaiman keteraturan dan pola struktur yang terdapat
dalam benda yang diperhatikannya.
3 model belajar matematika menurut Bruner yaitu :
1. Model Tahap Enaktif
Dalam tahap ini penyajian yang
dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlihat dalam memanipulasi
(mengotak atik) objek.
2. Model Tahap Ikonik
Dalam tahap ini kegiatan penyajian
dilakukan berdasarkan pada pikiran internal dimana pengetahuan disajikan
melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang dilakukan anak, berhubungan
dengan mental yang merupakan gambaran dari objek-objek yang dimanipulasinya.
3. Model Tahap Simbolis
Dalam tahap ini bahasa adalah pola
dasar simbolik, anak memanipulasi simbol-simbol
atau lambang-lambang objek tertentu.
Selain mengembangkan teori
perkembangan kognitif ,Bruner mengemukakan teorema atau dalil-dalil berkaitan
dengan pengajaran matematika yaitu :
a. Dalil Konstruksi / Penyusunan
Didalam teorema konstruksi dikatakan
cara yang terbaik bagi seorang siswa untuk mempelajari sesuatu atau prinsip
dalam matematika adalah dengan mengkontruksi atau melakukan penyusunan sebuah
representasi dari konsep atau prinsip tersebut.
b. Dalil Notasi
Menurut teorema notasi representase
dari suatu materi matematika akan lebih mudah dipahami oleh siswa apabila
didalam representase itu digunakan notasi yang sesuai dengan tingkat
perkembangan kognitif siswa.
c. Dalil Kekontrasan dan Variasi
Menurut teorema kekontrasan dan
variasi dikemukakan bahwa suatu konsep matematika akan lebih mudah dipahami
oleh siswa apabila konsep itu dikontraskan dengan konsep-konsep yang lain
sehingga perbedaan antar konsep itu dengan konsep-konsep yang lain menjadi jelas.
d. Dalil Konektivitas dan Pengaitan
Didalam teorema konektivitas disebut
bahwa setiap konsep, setiap prinsip, dan setiap keterampilan dalam matematika berhubungan dengan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan
keterampilan-keterampilan
lain.
2.
Teori Belajar Gagne
Teori yang diperkenalkan Gagne, pembelajaran harus dikondisikan untuk memunculkan respons yang diharapkan. Menurut
Gagne (Ismail 1998), belajar matematika
terdiri dari objek langsung dan objek tak langsung. Objek-objek langsung pembelajaran
matematika terdiri atas Fakta-fakta
matematika, Keterampilan
matematika, Konsep-konsep matematika, dan Prinsip-prinsip matematika. Sedangkan objek tak langsung terdiri atas Kemampuan berfikir logis, Kemampuan memecahkan masalah, Sikap
positif terhadap matematika, Ketekunan dan Ketelitian.
Taksonomi Gagne
Menurut Gagne tingkah laku manusia
sangat bervariasi dan berbeda dihasilkan dari belajar. Kita dapat
mengklasifikasikan tingkah laku sedemikian rupa sehingga dapat diambil
implikasinya yang bermanfaat dalam proses belajar. Selain itu Gagne membagi fase-fase kegiatan belajar dalam empat fase yaitu Fase Aprehensi, Fase
Akuisisi, Fase Penyimpanan, dan Fase
Pemanggilan.
3.
Teori Belajar Skinner
Skinner menyatakan bahwa ganjaran
atau penguatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses belajar. Ganjaran merupakan respon yang sifatnya menggembirakan dan merupakan
tingkah laku yang sifatnya subjektif. Dalam teori
Skinner dinyatakan bahwa penguatan terdiri atas penguatan positif dan penguatan
negatif. Contoh penguatan
positif diantaranya adalah pujian yang diberikan pada anak setelah berhasil
menyelesaikan tugas dan sikap guru yang bergembira pada saat anak menjawab
pertanyaan.
4.
Teori Belajar Piaget
Jean Piaget menyebutkan bahwa
struktur kognitif sebagai Skemata, yaitu
kumpulan dari skema- skema. Seorang
individu dapat mengikat, memahami, dan memberikan respon terhadap stimulus disebabkan
karena bekerjanya skemata ini.
Adapun Tahap
perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu:
• Tahap Sensori Motorik (sejak
lahir sampai dengan 2 tahun)
Bagi anak yang berada pada tahap
ini, pengalaman diperoleh melalui
perbuatan fisik (gerakan
anggota tubuh) dan sensorik (koordinasi alat indra).
• Tahap Pra Operasional (2 tahun sampai dengan7 tahun)
Ini merupakan tahap persiapan untuk
pengorganisasian operasi kongkrit. Operasi kongkrit adalah berupa tindakan- tindakan kognitif seperti mengklasifikasikan sekelompok
objek, dan membilang.
• Tahap Operasi Kongkrit (7 tahun sampai dengan 11 tahun)
Anak-anak
pada tahap ini telah memahami konsep kekekalan, kemampuan
mengklasifikasi, mampu memandang suatu objek dari sudut pandang yang
berbeda secara objektif.
• Tahap Operasional Formal (11
tahun dan seterusnya)
Tahap ini merupakan tahap akhir dari perkembangan kognitif secara kualitas. Anak pada tahap ini
sudah mampu malakukan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak. Anak
mampu bernalar tanpa harus berhadapan dengan objek atau peristiwanya langsung,
dengan hanya menggunakan simbol-simbol, ide-ide, abstraksi dan generalisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar